Kilas Sejarah — Profil BNKP

Kehadiraan misionaris pertama, Denninger di Pulau Nias pada tanggal 27 September ditandai sebagai permulaan pekerjaan Misi di Kepulauan Nias. Walau awalnya sulit, pelayanan Pemberitaan Injil oleh Misionaris (Denninger, kelahiran Berlin asal Gereja Rheinland, serta dibantu oleh Misionaris Kramer asal Elberfer dan Sundermann asal Landberger, keduanya dari Gereja Wesfalia) disambut oleh masyarakat di Pulau Nias. Sehingga setelah 9 tahun, masyarakat Nias asal Hilina’a dan Onizitoli sebanyak 25 orang menyambut berita Injil dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Peristiwa tersebut ditandai dengan baptisan pertama tepatnya pada hari paskah 1874. Dari segi umur dapat dikatakan BNKP kini sudah dewasa, setelah melalui berbagai suka dan duka. Kita dapat melihat potret BNKP  dari Yubileum ke Yubileum, sebagai berikut:

  1. Pada perayaan Yubileum I (1865 - 1915) di Gunungsitoli, pekerjaan Misi sudah penetrasi di seluruh wilayah kepulauan Nias:
    1. Utara (Bo’usö, Afia, Awa’ai, Sowu, Helera oleh Johannes Noll, dan Hilimaziaya oleh Emil Schlipköter).
    2. Tengah (Lölöwua oleh Sundermann dan Sifaoro’asi oleh Eduard Fries).
    3. Barat (Tugala-Lahömi/Fadoro oleh Lett dan Reitze, Lahusa dan Lölöwa'u oleh Ewald Krumm, Lahagu – Oyo oleh Lagemann, Lölomoyo oleh Dietrich Bassfeld, Hinako oleh Hoffmann).
    4. Timur (Humene oleh Thomas, Sogae’adu oleh Momeyer, dan Bawalia oleh Johannes Bieger).
    5. Selatan (Sa’ua oleh Rabeneck dan Hilisimaetanö oleh Borutta).
    6. Sedangkan pada tanggal 25 Februari 1889, badan misi Lutheran dari Belanda telah memulai misi di Pulau-pulau Batu, dan Ono Niha di Pulau-pulau Batu.
  2. Pada kurun waktu 50 tahun ke-2 (Yubileum kedua, 1915 - 1965), minimal 4 peristiwa dapat dicatat, yakni:
    1. Gerakan Pertobatan Massal (1916 s/d 1930-an), yang merupakan peristiwa dimana Orang Nias secara massal keluar dari Agama Asli masuk Agama Kristen.
    2. Pengorganisasian Kekristenan di Nias, pada Sidang Sinode Pertama 8 – 11 Nopember 1936, dengan nama Banua Niha Keriso Protestan (BNKP). Inilah organisasi pertama yang menyatukan seluruh Nias, kecuali PP Batu, yang baru pada tahun 1945 diorganisir dengan nama Banua Keriso Protestan, disingkat BKP.
    3. Skisma, yakni terjadinya perpecahan dalam tubuh BNKP, yakni di wilayah Öri Idanoi pada tahun 1946 dengan nama Angowuloa Masehi Idanoi Nias (kemudian kata Idanoni diganti menjadi Indonesia); dan di wilayah Öri Lahomi pada tahun 1952 dengan nama Orahua Niha Keriso Protestan.
    4. Oikumene dan Unifikasi, yakni ikut-sertanya BNKP mendirikan DGI (sekarang PGI) pada tahun 1950, dan Unifikasi dengan bersatunya BNKP dengan BKP pada tahun 1960.

    Dengan segala suka dan duka dalam perjalanan sejarah, maka pada tahun 1965, BNKP merayakan Yubileum II. Pada waktu itu, badan misi RMG memberikan bantuan berupa pembangunan Gedung Fanörötödö di Gunungsitoli dan Teluk Dalam.

  3. Pada kurun waktu 50 tahun ke-3 (Yubileum ketiga, 1965 – 2015) BNKP terus menata diri, dapat dibagi dua:
    • Pada masa 25 tahun pertama, Gereja BNKP berusaha melaksanakan tugas panggilannya, walaupun menghadapi berbagai tantangan. Dengan kemampuan yang ada dan didorong serta didukung oleh mitra dan badan-badan oikumene, BNKP berusaha menunaikan tugas panggilannya. Dalam kurun waktu ini ada beberapa hal yang perlu dicatat, al:
      1. BNKP menyatakan partisipasinya dalam pembangunan perhubungan melalui pengoperasian kapal Agape yang merupakan pemberian Gereja Rheinland, German pada perayaan 100 BI di Nias.
      2. Selain program pelayanan rutin, pada tahun 1970-an, BNKP, secara internal memulai penataan program pembinaan pelayan melalui SGI/PLPI (walaupun tenaga pendeta dilaksanakan dalam bentuk pengutusan di luar Nias, dan pernah sekali ada pelatihan tenaga pendeta), penataan Liturgi dan Buku Zinunö, penataan Literatur (LPLG), dan lembaga pengasuhan sekolah-sekolah BNKP (SMP, SMA BNKP) oleh MPK dan kemudian yayasan.
      3. Mulai tahun 1977, BNKP mempersiapkan tenaga ”motivator pedesaan” melalui Training Center Proyek Pengembangan Masyarakat (PPM) di We’awe’a. Program ini didukung oleh DGI (PGI sekarang). Ini merupakan implementasi dari partisipasi BNKP dalam pembangunan.
      4. Pada tahun 1973 dilaksanakan penataan organisasi melalui pembaharuan Tata Gereja yang berlaku hingga tahun 1990.
      5. Pada tahun 1984 PPM dirobah menjadi PELMAS yang fokusnya adalah peningkatan partisipasi BNKP dalam pembangunan di Nias.

      Walaupun sudah mulai ada keikut-sertaan BNKP dalam pembangunan, namun hal ini harus diakui sangat terbatas, dan tidak mempengaruhi sistem ekonomi, sehingga Nias yang sudah miskin terus-menerus berada di bawah garis kemiskinan. Dalam peta pelayanan PGI disebut dengan ”peta merah”, artinya di daerah tersebut mayoritas Kristen, tetapi sangat miskin dan tertinggal (pendapatan perkapita rendah, pendidikan rendah, terisolasi, kualitas kesehatan sangat rendah, dll).

    • Pada kurun waktu 25 tahun kedua (1990-sekarang), penguasa orde baru terus membangun kekuasaannya, walaupun pada akhirnya runtuh yang ditandai dengan pengunduran diri Soeharto dari takhta kepresidenan. Gerakan reformasi mampu menjatuhkan kekuasaan rezim yang ada dengan kekuatan rakyat yang dimotori oleh mahasiswa. Mendahului era reformasi tersebut, krisis moneter yang diikuti krisis ekonomi dan multi-dimensi melanda bangsa Indonesia. Pembangunan yang dibangun oleh Soeharto dalam kurun waktu 32 tahun, semua hancur karena lilitan hutang, KKN, dan dasar ekonomi negara yang keropos. Sehingga agenda reformasi merupakan cita-cita pemulihan kondisi bangsa dari krisis dan membangun masa depan yang demokrasi, berkeadilan, dan sejahtera berdasarkan Pancasila. Tetapi apa yang terjadi setelah 10 tahun reformasi bergulir? Bangsa kita masih terus berjuang menjadi bentuk dan sistem. Berbagai kelompok sedang bertarung dengan kepentingan masing-masing.

      Di tengah kondisi tersebut di atas, justru BNKP mengalami goncangan badai yang amat dasyat, terutama pasca Persidangan Sinode ke-48 di Ombolata, dimana terjadi skisma dengan adanya yang memisahkan diri dari BNKP, yakni BKPN (di Teluk Dalam) dan GNKPI (dahulu BNKPI) di Gunungsitoli akibat ketidak-puasan pada hasil sinode, walaupun ada banyak faktor di belakang alasan yang muncul. Ini adalah bencana organisasi.

      Dalam menghadapi goncangan tersebut, BNKP terus melakukan refleksi. Rekonsiliasi internal dilakukan, dengan menghilangkan berbagai hal yang ”mengkotak-kotakan.” Berbagai sistem yang kurang mendukung persekutuan diperbaharui, dan adanya komitment meningkatkan pelayanan kepada warga jemaat. Pada pihak lain disadari bahwa untuk menuju kedewasaan dan kemandirian, sumber daya manusia (pelayan dan warga) merupakan hal yang urgen. Pada tanggal 3 Agustus 1998 didirikan Sekolah Teologi BNKP yang pada tanggal 1 Agustus 1999 ditingkatkan statusnya menjadi STT-BNKP Sundermann.

      Goncangan badai lainnya adalah bencana alam yang terus melanda Nias. Pada tahun 2001 banjir besar melanda hampir separoh wilayah Nias, tahun 2004 tsunami turut melanda Nias, khususnya bagian Barat dan Selatan, dan tahun 2005 gempa meluluh-latahkan seluruh wilayah Nias. Masyarakat sungguh menderita, karena sebelum bencana sudah tinggal dalam ketertinggalan dan keterbelakangan, ditambah dengan bencana yang menelan korban jiwa dan harta benda. BNKP dan gereja-gereja lain yang ada di Nias terus bekerja melakukan pelayanan dalam menjawab persoalan yang dihadapi, walaupun ada banyak keterbatasan. Namun setelah gempa bumi melanda, kepulauan Nias dipulihkan kembali. BNKP-pun terus dipulihkan dan menjadi alat Tuhan untuk melayani dan memulihkan.