Seminar Sehari "Kajian Teologi Anak Kontekstual"

Seminar ini diselenggarakan untuk membangun komitmen dan tindakan bersama gereja-gereja di Nias, lembaga pendidikan teologi, dan para pemerhati anak dalam menyelamatkan masa depan anak-anak kita

Menyikapi perlakuan yang tidak ramah terhadap anak-anak dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia, secara khusus di Nias, STT BNKP Sundermann bekerja sama dengan Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) Nasional dan JPAB Regional Nias, menyelenggarakan seminar sehari dengan tema: "Kajian Teologi Anak Kontekstual". Seminar ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Mei 2016, di Ruang Damsyik 1 STT BNKP Sundermann Gunungsitoli. "Seminar ini diselenggarakan sebagai salah satu bentuk kepedulian STT BNKP Sundermann dalam upaya perlindungan anak di Indonesia dan Nias, sekaligus untuk membangun komitmen dan tindakan bersama gereja-gereja di Nias, lembaga pendidikan teologi, dan para pemerhati anak dalam menyelamatkan masa depan anak-anak kita yang sedang terancam dewasa ini", ungkap Ketua STT BNKP Sundermann dalam sambutannya.

Materi seminar disampaikan oleh narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, yaitu: Anak dan Media oleh Dr. Haryati (Ketua Nasional Pengurus JPAB & Koordinator Nasional Gerakan Anak Bersinar Bangsa Gemilang - ABBG); Potret Anak Nias Masa Kini oleh Pdt. Agus Farasi (Ketua JPAB Nias) dan Pdt. Abineri Gulo (Sekretaris JPAB Nias); Anak dalam Alkitab dan Gereja Nias oleh Pdt. Dr. Dien Sumiyatiningsih (Dosen Tamu STT BNKP Sundermann) dan Pdt. Yunelis Ndraha, M.Th (Ketua STT BNKP Sundermann); Anak dalam Budaya, Masyarakat, dan Keluarga Nias oleh Pdt. Sarofati Gea, S.Th (Bishop Gereja AMIN) dan Pdt. Beniami Gulo, S.Th, M.A., M.Min (Kepala Departemen Marturia BNKP).

Baik narasumber maupun peserta seminar, sama-sama menyatakan keprihatinannya atas perlakuan yang sangat tidak ramah terhadap anak-anak selama ini, bahkan tindakan kekerasan terhadap anak sudah menjadi momok yang mengerikan, khususnya di Indonesia dan Nias. "Di Nias, kesehatan bayi/anak belum tertangani dengan baik, tindakan kekerasan terhadap anak yang cukup tinggi, banyak anak dengan kasus gizi buruk, kasus pembunuhan, HIV/AIDS, narkoba, miras, judi, dan pergaulan bebas", demikian paparan Pdt. Abineri. Hal ini tentu menjadi tantangan serius bagi gereja dan lembaga/institusi gerejani, bagaimana menyelamatkan anak-anak yang merupakan generasi penerus gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Persoalan seperti ini menurut Pdt. Dien, sebenarnya sudah lama terjadi, dan fakta tersebut tercatat dalam Alkitab (PL dan PB). Dien memberikan contoh Yesus, yaitu bahwa pada masa kecil-Nya Yesus pernah mengalami masa-masa sangat sulit ketika harus "diungsikan" oleh orangtua-Nya ke Mesir dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh dan berbahaya di padang pasir. Namun menurut Dien, pada masa hidup-Nya Yesus justru menjadi tokoh pembela anak-anak ketika masyarakat pada zaman itu, termasuk murid-murid Yesus sendiri, menempatkan anak-anak tersebut sebagai kelompok masyarakat yang tidak begitu penting. Maka untuk menyelamatkan masa depan anak-anak kita, Dr. Haryati mengajak peserta untuk mendiskusikan langkah-langkah konkret untuk menciptakan masyarakat, gereja, sekolah, dan keluarga yang ramah anak.

Seminar ini dimoderatori oleh Pdt. Juliman Harefa, Th.M, dan Pdt. Eirene K. Gulo, M.Th, keduanya adalah dosen tetap di STT BNKP Sundermann. Peserta sangat antusias mengikutinya, terbukti dengan peran aktif dan kesetiaan mereka dalam seminar ini mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai pada pukul 16.30 WIB. Selain menyampaikan sejumlah pertanyaan, kritik, dan saran, peserta juga terlibat secara langsung dalam menghasilkan rekomendasi-rekomendasi penting pada akhir seminar ini bersama dengan narasumber, moderator, dan tim pelaksana. Beberapa rekomendasi dimaksud antara lain: (1) Para pemimpin gereja, sekolah teologi, dan pemimpin kristiani lainnya perlu meningkatkan kepedulian terhadap anak; (2) Perlu ada kerjasama sosialisasi teologi anak kontekstual untuk pemimpin gereja dan lembaga kristiani; (3) Advokasi bagi anak-anak yang dipekerjakan; (4) Perlindungan Anak; (5) Pendidikan dan penyadaran orangtua laki-laki; (6) Mendorong Pemerintah untuk membuat kebijakan dalam penegakkan UU No. 44 tahun 2008 tentang pornografi; (7) Melindungi anak dari kejahatan media dan teknologi, penyalahgunaan media online dan pornografi; dan (8) Perlunya sinode gereja-gereja di Nias mengirimkan surat penggembalaan tentang internet untuk mencegah pornografi dan kekerasan terhadap anak. Rekomendasi ini akan diteruskan kepada para pimpinan sinode gereja-gereja di Nias dan lembaga-lembaga yang terkait.

Seminar ini diikuti oleh lebih delapan puluh (80) peserta, yang datang dari berbagai lembaga gereja dan pemerhati anak di Indonesia dan Nias, antara lain dari JPAB Nasional dan JPAB Nias, gereja-gereja di sekitar kota Gunungsitoli (BNKP, gereja AMIN, KGBI, GSY), Panti Asuhan Karya Fa'omasi Zo'aya Laverna, STT BNKP Sundermann, STT Syalom Gunungsitoli, STAK Emanuel Agung Gunungsitoli, STP Dian Mandala Gunungsitoli, PKPA Nias, Kemenag Nias, dan Media Online Kabar Nias. [turiabnkp]

Koleksi gambar untuk tulisan ini
Jenis tulisan:
Berita & Kegiatan
Ditulis oleh:
Pdt. Alokasih Gulo (Ama Ehowu)
Ditayangkan pada:
 
Dilihat
393 kali